In

KUNJUNGAN GALERY NASIONAL


Pameran Tetap






































Galeri Nasional Indonesia (GNI) merupakan lembaga museum/ galeri seni rupa di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdiri pada 8 Mei 1998 dan diresmikan operasionalnya pada 8 Mei 1999, aktivitas GNI adalah melaksanakan pengkajian, pengumpulan, registrasi, perawatan, pengamanan, pameran, kemitraan, edukasi, pendokumentasian dan publikasi karya seni rupa berupa lukisan, sketsa, grafis, patung, keramik, desain grafis, ilustrasi, fotografi, seni kriya, seni instalasi, dan media alternatif lainnya yang dikategorikan sebagai seni rupa modern dan kontemporer.
Saya Berkunjung ke Galeri Nasional Indonesia (GNI)  pada tanggal Minggu, 24 Maret 2019. Saya mengunjungi Pameran Tetap disajikan dengan penataan berdasarkan periodisasi perjalanan seni rupa Indonesia yang terbagi dalam dua bagian besar, yaitu Galeri 1 dan Galeri 2, yang secara keseluruhan terdiri dari 11 ruang dengan dilengkapi teks informasi (cetak dan multimedia). 
Galeri 1 Menampilkan koleksi galeri nasional Indonesia dalam periodesasi sejarah. Dalam galeri 1 Terdapat karya Raden Saleh Sjarif Bustaman (1807–1880), Karya Mooi Indie dan Persagi (1920–1942), Karya pada Era Pendudukan Jepang, Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Lahirnya Era Sanggar (1942–1945), Serta karya Era Akademi Seni Rupa (1947–sekarang). Galeri 2 menampilkan koleksi international dan koleksi tematik.
Karya seni yang dikumpulkan dan dirawat GNI hingga tahun 2018 telah mencapai 1.898, terdiri atas karya-karya para seniman Indonesia dan mancanegara yang memiliki andil penting dalam perkembangan seni rupa.  Sebagian besar merupakan hasil karya para maestro dan perupa tersohor seperti Raden Saleh, Wakidi, S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, Otto Djaja, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Widayat, Djoko Pekik, Eddie Hara, Heri Dono, Jim Supangkat, Dede Eri Supria, Tisna Sanjaya, Krisna Murti, Anusapati, Mella Jaarsma, dan karya perupa internasional antara lain Victor Vasarely, Wassily Kandinsky, Hans Arp, Zao Wou-Ki, Hans Hartung, dan Sonia Delaunay.

 Karya Favorit



Lukisan : Pasar (Suromo - 1957)
Title : "Pasar"
Artist : Suromo
Year : 1957
Tinta cetak pada kertas.
Ukuran : 33 x 38 cm.



Suromo ( 1919 - 2003 ) merupakan pelukis anggota Persagi. Pada tahun 1946 Suromo bergabung dengan sanggar Seniman Indonesia Muda di Solo, yang kemudian pindah ke Yogyakarta. Selain aktif sebagai pelukis, di SIM ia ikut mengelola majalah "Seniman". Pada tahun 1950 ia mengetuai Seksi Seni Lukis Himpunan Budaya Surakarta. Pada masa itulah Suromo dikenal mulai banyak menghasilkan karya cukilan kayu. Karya - karya grafisnya itu dapat mencapai detail seperti teknik engraving. Pencapaian yang demikian merupakan tuntutan karya grafis yang realistik.

Pada karya grafis yang berjudul “Pasar” (1957) ini, Seniman Suromo benar-benar menunjukkan kemampuan teknik cukilan kayu yang mendekati engraving. Lebih jauh lagi perspektif. Pencahayaan, dan detail bentuk-bentuknya telah mencapai keunggulan, sehingga karya seni grafis yang realistik ini terasa hidup. Dalam karya ini dapat diungkapkan keramaian sekaligus suasana dan ciri setting pasar pada tahun 1950-an. Dalam pasar tradisional itu ditampilkan pedagang yang masih menggelar dagangan di tanah atau dengan meja yang sederhana. Dalam keramaian terlihat wanita kebanyakan masih berkain kebaya dan kusir andong dalam pakaian tradisional Jawa. Dengan demikian, dalam karya ini seorang wanita yang memakai rok dan bersepatu, serta anak-anak yang juga memakai rok menjadi kontras sekaligus sebagai tanda (sign) perubahan zaman.
Suromo adalah termasuk pelukis yang lahir dan tumbuh lewat ‘pemasakan’ ide-ide Persagi untuk mengungkapkan realitas kehidupan sosial dengan cara yang impresif. Dalam karya ini jejak manifestasi ide itu masih dapat dirasakan. Hal itu terlihat dari bagaimana ia berusaha menangkap realitas kehidupan rakyat di pasar dan mengukapkannya lewat permainan cahaya atau warna-warna putih yang bergejolak. Tema-tema sekitar kehidupan sehari-hari dan perjuangan kemerdekaan memang banyak dibuat untuk karya grafisnya. Beberapa yang dapat dicatat adalah  “Pasar”, “penghadangan Gerilya” dan “Pertempuran Gerilya”.
Di masa sekitar revolusi kemerdekaan, selain bersemangat dalam melukis, Suromo juga mengungkapkan pemikirannya tentang kredo melukisnya di majalah Mimbar Indonesia (1949). Melukis menurutnya, ‘yang penting adalah isi hati pelukis keluar semua. Keluar dengan cara apa dan cara siapa tidak penting. Pekerjaan seni bukan kepandaian teknik, juga bukan kepandaian melukis, tetapi kata hati yang padat karena banyak menahan’. Namun demikian, kredo ekspresionis itu dalam perjalanan waktu juga ikut bergeser oleh zaman dan kekuatan pemikiran tokoh-tokoh yang besar.


 Pada tahun 1953, Sudjojono mulai melansir ide kembali ke realisme, supaya seni mudah dipahami oleh rakyat. Uniknya Suromo yang memiliki kemampuan teknik realis ini, juga tidak segera terhanyut pada ide itu. Dalam perjalannya, walaupun tidak terkait dengan kredo yang pernah ditulisnya, namun tetap dalam jiwa mengikuti kata hati. Karya-karya Suromo selanjutnya terus bergerak ke arah impresionisme dan dekoratif.

Pameran Tidak Tetap


Saat Saya Mengunjungi Galeri Nasional Indonesia sedang Berlangsung Pameran The Monster Chapter II: Momentum oleh seniman di Galeri Nasional Indonesia mulai tanggal 22 Maret 2019- 7 April 2019. The Monster Chapter II: Momentum dipamerkan di tiga area Galeri Nasional Indonesia – Gedung A, Gedung B, dan area outdoor.
Seniman J. Ariadhitya Pramuhendra adalah Lulusan tahun 2007 dari Institut Teknologi Bandung, di Seni Grafis.
Karya instalasi Ashes to Ashes yang digelar dalam Hong Kong Art Fair 2010 banyak mencuri perhatian dengan cepat mendapat perhatian khalayak internasional. Di tengah pergulatan warna dan tema berbagai kreasi seni yang tampil dari berbagai galeri besar dunia, ia muncul dengan warna monokromatik hitam putih. Karyanya paling sering ditentukan oleh potret dirinya yang realis sebagai tokoh sentral, menyelidiki imannya sendiri dan keberadaan Tuhan.

Tahun lalu, Pramuhendra menggelar pameran tunggal pertamanya di Indonesia dengan tajuk The Monster Chapter I: Memory. Tumbuh di lingkungan Katolik, karya seniman Pramuhendra di pameran ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang membentuk dirinya dan juga sejarah peradaban Kristen yang tercermin dalam ekspresi seni rupa Barat. Sebagai pameran tunggal terbesar dari sang seniman. Monster sering kali dianggap sebagai makhluk yang menakutkan, namun bagi seniman ini istilah tersebut memiliki makna yang mendalam sebagai kenangan yang terus membayangi dan sesuatu kekuatan dan kehebatan yang lebih besar dari dirinya.
Pameran bertajuk “The Monster” dengan karya yang sebagian besar menggunakan materi charcoal atau arang bertujuan untuk mengajak para pengunjung menangkap makna monster di bayangan dan imajinasi seorang anak, ketimbang cara penilaian sebagai orang dewasa. Sebagai seorang seniman, penjelajahan imajinasi dan gagasan kreatif Pramuhendra memang tak terpisahkan dari jejak iman dan pengalaman hidupnya saat masih di usia belia. Pameran ini adalah bagian dari Trilogi Pameran yang disebut Pramuhendra sebagai ‘seri monster’. ‘Momentum’ adalah bagian kedua setelah pameran The Monster Chapter I: Memory yang diselenggarakan pada tahun 2018. Pameran bagian pertama dan kedua membawa serta gagasan tentang kedekatan diri Pramuhendra pada tema religi dalam ekspresi karya-karyanya. Gambar yang dipilih Pramuhendra, berkaitan dengan sejarah peradaban Kristen dan Katolik. Karya-karya yang disajikan dalam pameran ini mengingatkan pada alur sejarah pada lini masa sejak era Renaissance (sekitar abad ke-15 dan 16) hingga era kebudayaan yang disebut sebagai abad Pencerahan (the Enlightment) di sekitar abad ke-17 dan 18 —para pengunjungpun bisa mengenali karya yang biasa ditemukan di rumah ibadah  hingga lukisan yang bersifat individual.
“Karya-karya Pramuhendra ini memang bukan hanya soal narasi dan keterangan, melainkan lebih mengangkut cara penerimaan milik kita secara langsung dan personal. Soal hitam dan putih, atau gelap dan terang, hanyalah perantara bagi kita untuk menyambut gerak dan perubahan yang berlangsung di dalam semesta diri kita sendiri,” jelas Rizki A. Zaelani, Kurator dari pameran ini.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar