Pameran Tetap
Saya Berkunjung
ke Galeri Nasional Indonesia (GNI) pada
tanggal Minggu, 24 Maret 2019. Saya mengunjungi Pameran Tetap disajikan dengan
penataan berdasarkan periodisasi perjalanan seni rupa Indonesia yang terbagi
dalam dua bagian besar, yaitu Galeri 1 dan Galeri 2, yang secara keseluruhan
terdiri dari 11 ruang dengan dilengkapi teks informasi (cetak dan
multimedia).
Galeri 1 Menampilkan koleksi galeri nasional
Indonesia dalam periodesasi sejarah. Dalam galeri 1 Terdapat karya Raden Saleh
Sjarif Bustaman (1807–1880), Karya Mooi Indie dan Persagi (1920–1942), Karya
pada Era Pendudukan Jepang, Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Lahirnya Era
Sanggar (1942–1945), Serta karya Era Akademi Seni Rupa (1947–sekarang). Galeri
2 menampilkan koleksi international dan koleksi tematik.
Karya seni yang dikumpulkan dan dirawat GNI hingga
tahun 2018 telah mencapai 1.898, terdiri atas karya-karya para seniman
Indonesia dan mancanegara yang memiliki andil penting dalam perkembangan seni
rupa. Sebagian
besar merupakan hasil karya para maestro dan perupa tersohor seperti Raden
Saleh, Wakidi, S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, Otto
Djaja, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Widayat, Djoko Pekik, Eddie Hara,
Heri Dono, Jim Supangkat, Dede Eri Supria, Tisna Sanjaya, Krisna Murti,
Anusapati, Mella Jaarsma, dan karya perupa internasional antara lain Victor
Vasarely, Wassily Kandinsky, Hans Arp, Zao Wou-Ki, Hans Hartung, dan Sonia
Delaunay.
Karya Favorit
Lukisan : Pasar
(Suromo - 1957)
Title : "Pasar"
Artist : Suromo
Year : 1957
Tinta cetak pada kertas.
Ukuran : 33 x 38 cm.
Suromo ( 1919 -
2003 ) merupakan pelukis anggota Persagi. Pada tahun 1946 Suromo bergabung
dengan sanggar Seniman Indonesia Muda di Solo, yang kemudian pindah ke
Yogyakarta. Selain aktif sebagai pelukis, di SIM ia ikut mengelola majalah
"Seniman". Pada tahun 1950 ia mengetuai Seksi Seni Lukis Himpunan
Budaya Surakarta. Pada masa itulah Suromo dikenal mulai banyak menghasilkan
karya cukilan kayu. Karya - karya grafisnya itu dapat mencapai detail seperti
teknik engraving. Pencapaian yang demikian merupakan tuntutan karya grafis yang
realistik.
Pada karya
grafis yang berjudul “Pasar” (1957) ini, Seniman Suromo benar-benar menunjukkan
kemampuan teknik cukilan kayu yang mendekati engraving. Lebih jauh lagi
perspektif. Pencahayaan, dan detail bentuk-bentuknya telah mencapai keunggulan,
sehingga karya seni grafis yang realistik ini terasa hidup. Dalam karya ini
dapat diungkapkan keramaian sekaligus suasana dan ciri setting pasar pada tahun
1950-an. Dalam pasar tradisional itu ditampilkan pedagang yang masih menggelar
dagangan di tanah atau dengan meja yang sederhana. Dalam keramaian terlihat
wanita kebanyakan masih berkain kebaya dan kusir andong dalam pakaian
tradisional Jawa. Dengan demikian, dalam karya ini seorang wanita yang memakai
rok dan bersepatu, serta anak-anak yang juga memakai rok menjadi kontras
sekaligus sebagai tanda (sign) perubahan zaman.
Suromo adalah
termasuk pelukis yang lahir dan tumbuh lewat ‘pemasakan’ ide-ide Persagi untuk
mengungkapkan realitas kehidupan sosial dengan cara yang impresif. Dalam karya
ini jejak manifestasi ide itu masih dapat dirasakan. Hal itu terlihat dari bagaimana
ia berusaha menangkap realitas kehidupan rakyat di pasar dan mengukapkannya
lewat permainan cahaya atau warna-warna putih yang bergejolak. Tema-tema
sekitar kehidupan sehari-hari dan perjuangan kemerdekaan memang banyak dibuat
untuk karya grafisnya. Beberapa yang dapat dicatat adalah “Pasar”, “penghadangan Gerilya” dan
“Pertempuran Gerilya”.
Di masa sekitar revolusi
kemerdekaan, selain bersemangat dalam melukis, Suromo juga mengungkapkan
pemikirannya tentang kredo melukisnya di majalah Mimbar Indonesia (1949).
Melukis menurutnya, ‘yang penting adalah isi hati pelukis keluar semua. Keluar
dengan cara apa dan cara siapa tidak penting. Pekerjaan seni bukan kepandaian
teknik, juga bukan kepandaian melukis, tetapi kata hati yang padat karena
banyak menahan’. Namun demikian, kredo ekspresionis itu dalam perjalanan waktu
juga ikut bergeser oleh zaman dan kekuatan pemikiran tokoh-tokoh yang besar.
Pada tahun 1953, Sudjojono mulai melansir ide
kembali ke realisme, supaya seni mudah dipahami oleh rakyat. Uniknya Suromo
yang memiliki kemampuan teknik realis ini, juga tidak segera terhanyut pada ide
itu. Dalam perjalannya, walaupun tidak terkait dengan kredo yang pernah
ditulisnya, namun tetap dalam jiwa mengikuti kata hati. Karya-karya Suromo
selanjutnya terus bergerak ke arah impresionisme dan dekoratif.
Pameran
Tidak Tetap
Saat Saya
Mengunjungi Galeri Nasional Indonesia sedang Berlangsung Pameran The Monster
Chapter II: Momentum oleh seniman di Galeri Nasional Indonesia mulai tanggal 22
Maret 2019- 7 April 2019. The Monster Chapter II: Momentum dipamerkan di tiga
area Galeri Nasional Indonesia – Gedung A, Gedung B, dan area outdoor.
Seniman J.
Ariadhitya Pramuhendra adalah Lulusan tahun 2007 dari Institut Teknologi
Bandung, di Seni Grafis.
Karya instalasi
Ashes to Ashes yang digelar dalam Hong Kong Art Fair 2010 banyak mencuri
perhatian dengan cepat mendapat perhatian khalayak internasional. Di tengah
pergulatan warna dan tema berbagai kreasi seni yang tampil dari berbagai galeri
besar dunia, ia muncul dengan warna monokromatik hitam putih. Karyanya paling
sering ditentukan oleh potret dirinya yang realis sebagai tokoh sentral,
menyelidiki imannya sendiri dan keberadaan Tuhan.
Tahun
lalu, Pramuhendra menggelar pameran tunggal pertamanya di Indonesia dengan tajuk
The Monster Chapter I: Memory. Tumbuh di lingkungan Katolik, karya seniman
Pramuhendra di pameran ini berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang
membentuk dirinya dan juga sejarah peradaban Kristen yang tercermin dalam
ekspresi seni rupa Barat. Sebagai pameran tunggal terbesar dari sang seniman. Monster
sering kali dianggap sebagai makhluk yang menakutkan, namun bagi seniman ini istilah tersebut
memiliki makna yang mendalam sebagai kenangan yang terus membayangi dan sesuatu
kekuatan dan kehebatan yang lebih besar dari dirinya.

Pameran bertajuk
“The Monster” dengan karya yang sebagian besar menggunakan materi charcoal atau
arang bertujuan untuk mengajak para pengunjung menangkap makna monster di
bayangan dan imajinasi seorang anak, ketimbang cara penilaian sebagai orang
dewasa. Sebagai seorang seniman, penjelajahan imajinasi dan gagasan kreatif
Pramuhendra memang tak terpisahkan dari jejak iman dan pengalaman hidupnya saat
masih di usia belia. Pameran ini adalah bagian dari Trilogi Pameran yang disebut
Pramuhendra sebagai ‘seri monster’. ‘Momentum’ adalah bagian kedua setelah
pameran The Monster Chapter I: Memory yang diselenggarakan pada tahun 2018.
Pameran bagian pertama dan kedua membawa serta gagasan tentang kedekatan diri
Pramuhendra pada tema religi dalam ekspresi karya-karyanya. Gambar yang dipilih
Pramuhendra, berkaitan dengan sejarah peradaban Kristen dan Katolik.
Karya-karya yang disajikan dalam pameran ini mengingatkan pada alur sejarah
pada lini masa sejak era Renaissance (sekitar abad ke-15 dan 16) hingga era
kebudayaan yang disebut sebagai abad Pencerahan (the Enlightment) di sekitar
abad ke-17 dan 18 —para pengunjungpun bisa mengenali karya yang biasa ditemukan
di rumah ibadah hingga lukisan yang bersifat
individual.

“Karya-karya
Pramuhendra ini memang bukan hanya soal narasi dan keterangan, melainkan lebih
mengangkut cara penerimaan milik kita secara langsung dan personal. Soal hitam
dan putih, atau gelap dan terang, hanyalah perantara bagi kita untuk menyambut
gerak dan perubahan yang berlangsung di dalam semesta diri kita sendiri,” jelas
Rizki A. Zaelani, Kurator dari pameran ini.








0 komentar:
Posting Komentar