In

CIRI WANITA PENGHUNI SURGA

Kepada para istri yang mendambakan untuk menjadi penghuni Surga..

Tentunya untuk menjadi penghuni surga, bukanlah perkara yang mudah, sebagaimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah mengisyaratkan hal ini dalam haditsnya.

Beliau bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

"Bahwasanya surga itu diliputi/dipagari dengan perkara-perkara yang dibenci."

(HR Muslim dari shahābat Anas bin Mālik)

⇒ Artinya seorang jika hendak masuk dalam surga, dia harus melewati hal-hal yang bertentangan dengan hawa nafsunya, yang dia benci, yang bertentangan dengan egonya (sikap egoisnya).

Ada satu sifat yang disebutkan oleh Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam diantara sifat penghuni surga. Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

"Dan istri-istri kalian yang akan masuk surga yaitu yang berusaha meraih kecintaan suami (penyayang), yang subur (mudah beranak banyak), serta yang senantiasa kembali kepada suaminya, yaitu jika suaminya marah maka diapun segera datang kepada suaminya dan meletakkan tangannya di tangan suaminya dan berkata:

'Wahai suamiku, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak sampai engkau maafkan aku (ridha kepadaku)'."

(HR An Nasāi dalam As Sunan Al Kubra 5/361, Ath Thabrāni dalam Al Awshath 6/11, dishahihkan oleh Syaikh Al Albāni karena syawahidnya (Ash Shahīhah 1/578 no 287), dari shahābat Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallāhu 'anhu)

⑴ AL WADŪD | Seorang wanita yang berusaha meraih kecintaan suaminya.

Dia berusaha dengan sifat dan akhlaqnya yang mulia; dengan ramah dan tutur kata yang indah, berusaha berpenampilan yang menarik agar meraih kecintaan suaminya.

⑵ AL WALŪD | Wanita yang subur yang memberikan keturunan kepada suaminya.


Dan yang ingin kita fokuskan pada kesempatan kali ini adalah sifat yang ke-3, kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam

⑶ AL AŪD 'ALA ZAWJIHĀ | Seorang wanita yang senantiasa kembali kepada suaminya.

Inilah penghuni surga..

Ibu-ibu dan para istri yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Kelihatannya sifat ini merupakan sifat yang sepele namun sesungguhnya tidak demikian.

Kenapa?

Karena banyak wanita atau sebagian wanita tidak mudah untuk meminta maaf kepada suaminya, meskipun terkadang dia yang salah.

Kenapa?

Karena egonya yang dia kedepankan.

Dan iblis/syaithan datang membisikan kepada dia untuk tidak minta maaf kepada suaminya, padahal dia tahu dia yang salah.

Bahkan terkadang dia ingin suaminya yang minta maaf.

Dia tahu dia bersalah namun dia ingin melemparkan kesalahan kepada suaminya dan dia ingin suaminya yang minta maaf (karena dia punya ego).

Dan ini adalah benih-benih yang bisa menimbulkan kerusakan dalam rumah tangga dan menghancurkan rumah tangga yang telah dibangun selama ini.

Oleh karenanya, seorang wanita harus mengalahkan egonya dan jika dia bersalah maka segera datang kepada suaminya.

Meskipun hati suaminya lagi marah/keras, tetapi tatkala melihat istrinya bersifat demikian, (yaitu) mengakui kesalahannya, apalagi sambil memegang tangan suaminya sambil mengatakan:

"Wahai suamiku, aku tidak bisa tidur sampai kau maafkan aku, sampai kau ridha kepadaku."

Maka inilah yang disebut wanita penghuni surga.

Saya sampaikan kepada para istri dan para ibu-ibu,

Jangan pernah malu jika Anda bersalah.

Jika Anda bersalah maka segeralah datang kepada suami dan minta maaf, ini merupakan bentuk menjalankan sunnah Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Jadilah Anda penghuni surga !

Kalahkan ego anda.

Syaithān, iblis yang ingin agar Anda berpisah dari suami Anda.

Bila tidak berpisah, iblis ingin kehidupan rumah tangga Anda dan suami dalam kondisi ruwet/semrawut; tidak ada kebahagian, tidak ada mawadah dan rahmah.

Inilah yang di inginkan iblis.

Bayangkan, jika Anda tidak minta maaf maka api permusuhan berhari-hari akan menyala antara Anda dan suami.

Oleh karenanya...

Kalahkan ego, dan jika punya salah segeralah minta maaf kepada suami !

Terapkan sunnah Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam !

Jadilah Anda sebagai penghuni surga !

Kemudian saya ingatkan juga kepada para istri,

Selain Anda memiliki sifat mudah untuk minta maaf, juga usahakanlah agar semantiasa memberi udzur kepada suami.

Suami mungkin melakukan kesalahan disuatu hari, namun suamipun punya ego sehingga enggan untuk minta maaf.

Bila dia minta maaf kepada istrinya seakan-akan harga dirinya akan jatuh, padahal tidak !

Suami yang sejati adalah suami yang mau mengakui kesalahan.

Apalagi mengakui kesalahan dihadapan istrinya, yaitu seorang wanita yang sayang kepada dia, yang menghabiskan waktunya berhikmad kepada suaminya.

Maka seorang suami yang sejati/gentle dia berani minta maaf kepada istrinya.


Namun, kalau seorang istri memiliki (menghadapi) model suami yang tidak mau minta maaf, maka hendaknya dia berusaha memahami kondisi suaminya.

Karena terkadang sebagian suami merasa berat jika mengucapkan minta maaf kepada istri dengan mengucapkan:

"Wahai istriku, maafkan aku."

Namun dia minta maaf dengan cara yang lain.

Misalnya terjadi keributan dan sang suami merasa bersalah, kemudian dia mengatakan:

"Ayo, malam ini kita makan direstoran."

Sudah...!

Cukup (bagi) seorang istri bila suaminya mengajak makan malam di restoran berarti maksudnya dia mengatakan:

"Saya minta maaf, saya salah."

Jangan kita tunggu suami harus mengungkapkan minta maaf dengan lisannya.

Ini tidak mudah bagi setiap suami.

Oleh karenanya, bila suami sudah mulai merubah sikapnya, misalnya mengajak makan malam atau mulai memijit-mijit istrinya, dielus-elus rambutnya, berarti dia (suami) sudah minta maaf.


Dengan demikian hendaknya seorang istri memahami karakter suami yang cara minta maafnya terkadang tidak dengan lisan, tetapi dengan sikap.

Dengan demikian berumah tangga akan mudah dan berjalan dengan penuh mawadah & rahmah.

Setiap ada kesalahan dan setiap ada keretakan akan mudah untuk segera dikembalikan dan diperbaiki.

Semoga kita semua merasakan kehidupan rumah tangga yang penuh mawadah dan rahmah dan diberkahi oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Jadilah Anti sebagai wanita yang mudah meminta maaf !

Jadilah Anti sebagai penghuni surga !

وبالله التوفيق
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website:
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv



🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 14 Rabi'ul Awwal 1437 H / 26 Desember 2015 M
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
🔊 Ceramah Singkat | Ciri Wanita Penghuni Surga

Sumber:
https://youtu.be/A-xrOe_5Jw8
➖➖➖➖➖➖➖🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 14 Rabi'ul Awwal 1437 H / 26 Desember 2015 M
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
🔊 Ceramah Singkat | Ciri Wanita Penghuni Surga

Sumber:
https://youtu.be/A-xrOe_5Jw8
➖➖➖➖➖➖➖

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In MACAM MACAM AIR YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK BERSUCI

MACAM MACAM AIR YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK BERSUCI



🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at,  13 Rabi'ul Awwal 1437 H / 25 Desember 2015 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abi Syuja' | Kitab Thaharah
🔊 Kajian 04 | Macam Macam Air Yang Diperbolehkan Untuk Bersuci
~~~~~~~

MATAN KITAB:

المياه التي يجوز بها التطهير سبع مياه ماء السماء وماء البحر وماء النهر وماء البئر وماء العين وماء الثلج وماء البرد

Artinya: Macam-macam Air Air yang dapat dibuat untuk bersuci ada 7 (tujuh) yaitu air hujan (langit), air laut, air sungai, air sumur, air sumber (mata air), air salju, air dingin.

(Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja')
➖➖➖➖➖➖➖➖🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at,  13 Rabi'ul Awwal 1437 H / 25 Desember 2015 M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abi Syuja' | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 04 | Macam Macam Air Yang Diperbolehkan Untuk Bersuci
~~~~~~~

MATAN KITAB:

المياه التي يجوز بها التطهير سبع مياه ماء السماء وماء البحر وماء النهر وماء البئر وماء العين وماء الثلج وماء البرد

Artinya: Macam-macam Air Air yang dapat dibuat untuk bersuci ada 7 (tujuh) yaitu air hujan (langit), air laut, air sungai, air sumur, air sumber (mata air), air salju, air dingin.

(Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja')
➖➖➖➖➖➖➖➖

MACAM MACAM AIR YANG DIPERBOLEHKAN UNTUK BERSUCI

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أسرف الأنبيآء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد.

Para Sahabat Bimbingan Islam sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pada halaqah yang ke-4 ini kita akan membacakan Kitab Matan Abū Syujā', semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberkahi dan memudahkan kita semua.

قال المألف :
((كِتَابُ الطّهَارَةِ))

Berkata Penulis rahimahullāh:
((Kitab Thahārah))

◆ Ath-Thahārah (الطّهَارَةِ)

• Makna secara bahasa adalah an-nazhāfah (أَلنَّظَافَةُ), yaitu kebersihan.
• Makna secara istilah adalah:

عِبَارَةٌ عَنْ رَفْعِ الْحَدَثِ وَ إِزَالَةِ النَّجَسِ
"Proses mengangkat hadats dan menghilangkan najis."

◆ Al-Hadats (الحَدَثُ)

Adalah:

وصف قائم بالبدن يمنع من الصلاة ونحوها مما تشترط له الطهارة

"Sifat atau status pada diri seseorang yang menghalangi dari shalat dan ibadah-ibadah yang lainnya yang disyaratkan pada ibadah tersebut thahārah."

Misalnya:
Seorang yang keluar angin dari duburnya, maka statusnya dia berhadats dan menghalanginya untuk melaksanakan ibadah shalat sampai dia thahārah (berwudhū') yang mengangkat hadats tersebut.

◆ Najis

Adalah:

كل عين يجب التطهر منها

"Segala sesuatu zat yang kita diwajibkan secara syari'at untuk bersuci darinya."

Misalnya:
Kotoran manusia, maka ini adalah zat yang najis. Seseorang yang terkena kotoran manusia, maka dia wajib untuk membersihkannya, sebelum dia melaksanakan ibadah shalat.

Para Sahabat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Para ulama memulai kitab fiqh mereka diawali dengan pembahasan kitab Thahārah, karena kitab ini berkaitan dengan kitab Shalat, dimana shalat disyaratkan untuk bersuci sebelum melaksanakan ibadah tersebut.

Dan Penulis disini memulai kitab Thahārah dengan menjelaskan tentang bermacam-macam (jenis-jenis) air yang bisa digunakan untuk bersuci.

Berkata Penulis rahimahullāh:

((الْمِيَاهُ الَّتِي يَجُوْزُ التَّطْهِيْرُ بِهَا سَبْعُ مِيَاهٍ))

((Air yang diperbolehkan untuk digunakan dalam bersuci ada 7 macam))

• PERTAMA

((مَاءُ السَّمآءِ))

((Air dari langit))

Yaitu hujan. Dalilnya adalah surat Al-Anfāl ayat 11. Allāh Ta'āla berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ

"Dan Dia menurunkan kepada kalian air dari langit, agar kalian bersuci dengannya."

• KEDUA

((وَمَاءِ الْبَحْرِ))

((Air laut))

Atau مَاءُ الْبِحَارِ dalam shahīh yang lain.

Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, yang diriwayatkan dalam Ash-hābus Sunān, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda tatkala ditanya tentang air laut, Beliau mengatakan:

وَالطَّهُورُ ماؤُهُ ، الحِلُّ ميتتُهُ

"Bahwasanya air laut tersebut adalah suci airnya dan halal bangkainya."

Yaitu hewan air laut apabila menjadi bangkai, maka halal.

• KETIGA

((وماء النهر))

((Air sungai))

Dan ini adalah ijma' para ulama bahwasanya air sungai adalah yang suci.

Dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فيه كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ». وَمَا يُبْقِى ذَلِكَ مِنَ الدّنَسِ

"Permisalan shalat lima waktu adalah seperti sungai yang mengalir yang melimpah ruah airnya di depan pintu seseorang diantara kalian. Kemudian dia mandi setiap hari 5 waktu, maka apakah tersisa sedikit pun kotoran?." (HR Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam memisalkan dengan air sungai yang digunakan untuk bersuci.

• KEEMPAT
((وَ مَاءُ الْبِئْرِ))

((Air sumur))

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imām Tirmidzi, dimana Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berwudhū' dari air sumur Budhā'ah. Dan tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya, maka Beliau mengatakan

الْمَاءُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

"Bahwasanya air itu tidak menajiskan segala sesuatu apapun."

• KELIMA

((وَمَاءُ الْعَيْنِ))

((Mata air))

Yang maknanya sama dengan air laut dan air sungai, maka hukumnya pun suci.

• KEENAM
((وَمَاءُ الثَّلْجِ))

((Air salju))

• KETUJUH

((وَمَاءُ الْبَرَدِ))

((Air embun))

Dalilnya:
Hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang do'a istiftah, ketika Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam berdo'a:

اللهم اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

"Ya Allāh, cucilah dosa-dosaku dengan air salju dan air embun."

(HR Bukhari 2/182, Muslim 2/98)

Demikian yang bisa kita sampaikan.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
______________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website:
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page:
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

TERMASUK SYIRIK BERNADZAR UNTUK SELAIN ALLĀH


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Belajar Tauhid berjudul "Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh".

Bernadzar untuk Allāh adalah seseorang mengatakan, misalnya:

"Wajib bagi saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allāh"

Atau dengan mengatakan:

"Saya bernadzar untuk Allāh bila terlaksana hajat saya".

Bernadzar, kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, adalah ibadah dan sebuah bentuk pengagungan.

Karenanya, bernadzar ini tidak diperkenankan kecuali untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla semata, seperti seseorang:

• Bernadzar untuk Allāh akan berpuasa 1 hari bila lulus ujian,

atau

• Bernadzar untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan mengadakan umroh bila sembuh dari penyakit,

• Dan lain-lain.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

’’Dan apa yang kalian infaqkan atau yang kalian nadzarkan maka sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengetahuinya.’’

(QS Al-Baqarah: 270)

Allāh Ta'āla mengabarkan bahwasanya Allāh mengetahui nadzar para hambaNya di dalam ayat ini dan akan membalas dengan balasan yang baik.

⇒ Ini menunjukan bahwasanya nadzar adalah ibadah yang seorang Muslim akan diberikan pahala atas nadzar tersebut.

Dan menunaikan nadzar apabila dalam keta'atan hukumnya adalah wajib, berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُم

"Dan supaya mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka."

(QS Al-Hajj: 29)

Dan sabda Nabi Shallallāhu ' 'alayhi wasallam:

ﻣَﻦْ ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄِﻴﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻠْﻴُﻄِﻌْﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺼِﻴَﻪُ ﻓَﻼَ ﻳَﻌْﺼِﻪِ

’’Barangsiapa yang bernadzar untuk menta'ati Allāh Subhānahu wa Ta'āla maka hendaknya menta'atinya dan barang siapa yang bernadzar untuk memaksiati Allāh maka janganlah dia memaksiatiNya."

(HR Al Bukhāri)            

Bernadzar untuk selain Allāh termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, seperti:

• Seseorang bernadzar apabila seseorang sembuh dari penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan atau berpuasa untuk syaikh fulan dan lain-lain.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla  melindungi kita dan keturunan kita dari perbuatan syirik.

Itulah halaqah yang ke-10 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Saudaramu,
'Abdullāh Roy

✒Ditranskrip Oleh Tim Transkrip BiAS
🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 12 Rabi'ul Awwal 1437 H / 24 Desember 2015 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 10 | Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh
⬇ Download Audio: https://goo.gl/AGgAHi
~~~~~~~~~~~~~~~
[12/24/2015, 14:56] +62 896-7559-7395: 🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 12 Rabi'ul Awwal 1437 H / 24 Desember 2015 M
👤 Ustadz 'Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
🔊 Halaqah 10 | Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh
⬇ Download Audio: https://goo.gl/AGgAHi
~~~~~~~~~~~~~~~

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Allah mencintai 3 hal dan membenci 3 hal.

Allah mencintai 3 hal dan membenci 3 hal.

Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah mencintai 3 hal dan membenci 3 hal.
Perkara yang dicintai Allah adalah;
1. sedikit makan,
2. sedikit tidur,
3. sedikit bicara.
Sedangkan perkara yang dibenci Allah;
1. banyak bicara,
2. banyak makan,
3. banyak tidur."
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, 5:48)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Roadshow toped 2015 uus stand up comedy

ROADSHOW TOKOPEDIA BDG 2015










Hallo Toppers Bandung!

Seller tokopedia pasti ikut hadir di Roadshow Tokopedia bandung 2015 

Hari / Tgl
Kamis, 17 Desember 2015

Jam
19.00 – 21.00 WIB

Tempat
Malibu Dome, Grand Pasundan Convention  Hotel
Jalan Peta No. 147-149, Lingkar Selatan, Bandung, Jawa Barat 40233

TALKSHOW
1. Nurul - Inspiring Seller Tokopedia
2. Abdurrahim - Inspiring Seller Tokopedia
3. Uus - Stand Up Comedy 


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Ketika tanggung jawab seseorang bertambah


Bismillah..
Ketika tanggung jawab seseorang bertambah,
maka sudah pasti Allah akan menambah pula jatah rezekinya.
Tidak mungkin Allah memberikan jatah rezeki yang sama kepada seseorang saat masih bujangan dengan ketika sudah menikah dan memiliki anak. 
Allah pasti tambah rezekinya.
Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan dalam haditsnya,
"Ada 3 golongan yang pasti mendapatkan pertolongan Allah;
1. Orang yang menuntut ilmu,
2. Orang yang berjihad di jalan Allah,
3. Orang yang menikah dengan mengharapkan keshalehan diri."
(HR. Ahmad)
Menikah akan mendatangkan keberkahan hidup, membuka pintu rezeki, dan rahmat Allah.
Sungguh, didalam pernikahan banyak terdapat ladang amal shaleh yang tidak akan bisa didapatkan oleh orang yang belum menikah.
Wallahu a'lam bish shawab..

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

WAKTU YANG BERKAH


Ukhti sudah kita memanfaatkan waktu dengan berkah? 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Hijrah! Pilihan bukan paksaan

Hijrah ! apa itu hijrah ?? Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dri dan berpindah tempat. banyak teman yang telah berhijarah lebih mendekatkan diri pada allah S.W.T. sedikit bercerita tentang hijrah saya sendiri dari yang belum berjilbab hingga kini telah berjilbab.
berhijrah adalah piliahan bukan paksaan. ketika hati belum tersentuh oleh allah maka sulit rasanya dijalankan. tapi, jika hatimu telah tersentuh oleh allah maka menjalankannya akan terasa lebih ringan. hati saya tersentuh oleh rahmatnya begitu pas dihati membuat saya tersentak. tahun 2010 saya terbiasa pulang sekolah jalan kaki untuk menghemat uang saku yang pas pasan untuk naik angkot. dari sekolah SMK N 3 menuju rumah saya di binong- babakan jati . sore itu lengang di jalan soekarno hatta tepatnya di per-4tan bypass saya yang saat itu belum berkerudung dengan santainya sambil mendengarkan radio di hp. bisa di bilang anka jalanan menghampiri menggoda saya sambil mau colak colek untungnya dengan  jaket yang saya hempaskan kearah mereka saya bisa lolos dan lari dengan cepat. dari sana saya tersentuh mungkin ini yang di maksud

Mutiara Yang Harus Dijaga

Selain menjamin hak-hak wanita, Islam pun menjaga kaum wanita dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan agar berikutnya, kaum wanita dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.
Muhammad Thâhir ‘Asyûr rahimahullah berkata, “Agama Islam sangat memperhatikan kebaikan urusan wanita. Bagaimana tidak, karena wanita adalah setengah dari jenis manusia, pendidik pertama dalam pendidikan jiwa sebelum yang lainnya, pendidikan yang berorientasi pada akal agar ia tidak terpengaruh dengan segala pengaruh buruk, dan juga hati agar ia tidak dimasuki pengaruh setan…
Islam adalah agama syariat dan aturan. Oleh karena itu ia datang untuk memperbaiki kondisi kaum wanita, mengangkat derajatnya, agar umat Islam (dengan perannya) memiliki kesiapan untuk mencapai kemajuan dan memimpin dunia.” (al Tahrîr wa al Tanwîr: 2/400-401)
Di antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzâb [33]: 59)
Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmudan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari prilaku menyimpang yang muncul akibat hancurnya sekat-sekat pergaulan antara kaum laki-laki dan wanita. Merebaknya perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual adalah diantara fenomena yang diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah diatas dan kaum laki-laki sebagai pemimpin dan penanggungjawab mereka lalai dalam menerapkan hukum-hukum Allah atas kaum wanita.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Ukhti !! bicara soal CINTA


Pernahkah ukhti mencoba membuka hati untuk seseorang tapi tiba- tiba baru mulai melangkah rasanya sudah seberat ini. begitulakh kecewa rasa yang gak bisa di definisikan dengan apapun. kita sudah ikhtiar dengan sepenuhnya ikhtiar dengan harapan allah mendengarnya dan mengetuk orang itu untuk segala melamar ke orang tua kita, tapi apa daya allah bilang tunggu dan mungkin dia bukan yang terbaik. setiap malam di tahajud ku salulu menyebut namanya. 

ketika dia memutuskan melanjutkan studinya rasanya sedih dan kecewa sekali. rasanya ingin bilang saya berharap ucapan lain berharap ucapan saling bersama merajut impian bersama dalam ikatan pernikahan. tapi dia malah memilih jalannya sendiri tanpa saya hanya dia dan impiannya. itu lakh pilihan mungkin ini yang dinamakan mungkin bukan jodoh. 

berakhir dengan saling mengikhlasakan dan melupakan satu sama lain. begitulah rasanya di PHP-kan sama seseorang yang belum yakin. ukhti saat itu saya ada di fase yang rapuh dan saya menemukan sesuatu hikmah di balik itu semua. mungkin kita bukan jodoh, mungkin saya belum siap jika hal itu terjadi akan berakibat buruk untuk saya. baru diberi penolakan saja saya sudah sedih apalagi saat di tinggal pasangan kita nanti. 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

KARTU NAMA


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Adikku seperti anakku

Adikku seperti anakku , perbedaan umur yang cukup jauh antara aku dan 3 adikku paling bontot membuatku lebih dekat dengan adik-adiku. aku yang tumbuh dengan asuhan kakak laki-laki pun jadi sedikit tomboy, maklum sejak kecil aku yang cengeng biasa di gendong bergantian oleh kakak laki' biasa ke sawah ke walungan dan menerbangkan layangan. saat kakakku menginjak remaja aku biasa duduk disebelahnya yang sedang belajar service motor dan bongkar pasang cpu dan benerin koneksi internet para tetangga sering kali ikut pasang RJ45.

beberapa hari yang lalu saya melihat tayangan telivisi swasta antara adik dan kakak pelawak. kakak selalu menuntut adiknya lebih dewasa menjadi adik yang baik. ketika di tanya oleh host km tau adikmu sekolah dmn? km tau di kelas berapa sekarang?. Sang kakak hanya terdiam saja. terkadang sebagai kakak apalagi yang sudah bekerja kita mungkin sering memmbantu keuangan keluarga. sehingga sering kali kita menuntut hal lebih pada adik kita. tapi tidak cukup bantuan finansial saja yang kita berikan pada kelurga, perhatian juga kita perlu berikan pada adik kita. sering kali kita bahkan tidak tau dia sekilah dmn? sudah kelas brp? ikut ekskul apa di sekolah?. yuk mulai sekarang lebih perhatian lagi dengan adik kita.

Jarak usia yang beda juga sering jadi kendala dalam mengajari adik, aku yang lahir di tahun 90-an sedang adik ku lahir di tahun 2000-an. adik kita lahir di era digital yang serba instan dan serba cepat


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In 24 jam Al-Falaq dan An-nas di passion double jobsdesk kerja bukan Level Aksi : Membaca Tafsir Surat Al-ikhlas mama siti nurjanah uhti siti ultah 24

Level Aksi : Membaca Tafsir Surat Al-ikhlas, Al-Falaq, dan An-nas

1. Surat Al-ikhlas
Inilah surat yang dikatakan dalam beberapa hadits seperti sepertiga Al Qur’an yaitu surat Al Ikhlash. Pada kesempatan kali dan beberapa posting selanjutnya, kita akan sedikit mengupas mengenai surat ini. Pada awalnya kita akan melihat dahulu tafsiran ayat-ayat yang ada pada surat tersebut. Setelah itu kita akan melihat keutamaan surat ini. Terakhir, kita akan mengkaji waktu kapan saja surat Al Ikhlash dibaca. Semoga bermanfaat.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4
(yang artinya) :
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Pengenalan
Surat ini dinamakan Al Ikhlas karena di dalamnya berisi pengajaran tentang tauhid. Oleh karena itu, surat ini dinamakan juga Surat Al Asas, Qul Huwallahu Ahad, At Tauhid, Al Iman, dan masih banyak nama lainnya.
Surat ini merupakan surat Makiyyah dan termasuk surat Mufashol. Surat Al Ikhlas ini terdiri dari 4 ayat, surat ke 112, diturunkan setelah surat An Naas. (At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)
Ada dua sebab kenapa surat ini dinamakan Al Ikhlash.Yang pertama, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlash. Yang kedua, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Perhatikan penjelasan berikut ini.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan bahwa Surat Al Ikhlas ini berasal dari ’mengikhlaskan sesuatu’ yaitu membersihkannya/memurnikannya. Dinamakan demikian karena di dalam surat ini berisi pembahasan mengenai ikhlas kepada Allah ’Azza wa Jalla. Oleh karena itu, barangsiapa mengimaninya, dia termasuk orang yang ikhlas kepada Allah.
Ada pula yang mengatakan bahwa surat ini dinamakan Al Ikhlash (di mana ikhlash berarti murni) karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Allah hanya mengkhususkan membicarakan diri-Nya, tidak membicarakan tentang hukum ataupun yang lainnya. Dua tafsiran ini sama-sama benar, tidak bertolak belakang satu dan lainnya. (Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, 97)
Asbabun Nuzul
Surat ini turun sebagai jawaban kepada orang musyrik yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?’. Maka Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Katakanlah kepada yang menanyakan tadi, … [lalu disebutkanlah surat ini]’(Aysarut Tafasir, 1502). Juga ada yang mengatakan bahwa surat ini turun sebagai jawaban pertanyaan dari orang-orang Yahudi (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim, Tafsir Juz ‘Amma 292). Namun, Syaikh Muqbil mengatakan bahwa asbabun nuzul yang disebutkan di atas berasal dari riwayat yang dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan dalam Shohih Al Musnad min Asbab An Nuzul.
Saatnya memahami tafsiran tiap ayat.
Tafsir Ayat Pertama
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1)
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Kata (قُلْ) –artinya katakanlah-. Perintah ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga umatnya.
Al Qurtubhi mengatakan bahwa (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) maknanya adalah :
الوَاحِدُ الوِتْرُ، الَّذِي لَا شَبِيْهَ لَهُ، وَلَا نَظِيْرَ وَلَا صَاحَبَةَ، وَلَا وَلَد وَلَا شَرِيْكَ
Al Wahid Al Witr (Maha Esa), tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak memiliki istri ataupun anak, dan tidak ada sekutu baginya.
Asal kata dari (أَحَدٌ) adalah (وَحْدٌ), sebelumnya diawali dengan huruf ‘waw’ kemudian diganti ‘hamzah’. (Al Jaami’ liahkamil Qur’an, Adhwaul Bayan)
Syaikh Al Utsaimin mengatakan bahwa kalimat (اللَّهُ أَحَدٌ) –artinya Allah Maha Esa-, maknanya bahwa Allah itu Esa dalam keagungan dan kebesarannya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tafsir Juz ‘Amma 292)
Tafsir Ayat Kedua
اللَّهُ الصَّمَدُ (2)
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masiir mengatakan bahwa makna Ash Shomad ada empat pendapat:
Pertama, Ash Shomad bermakna:
أنه السيِّد الذي يُصْمَدُ إليه في الحوائج
Allah adalah As Sayid (penghulu), tempat makhluk menyandarkan segala hajat pada-Nya.
Kedua, Ash Shomad bermakna:
أنه الذي لا جوف له
Allah tidak memiliki rongga (perut).
Ketiga, Ash Shomad bermakna:
أنه الدائم
Allah itu Maha Kekal.
Keempat, Ash Shomad bermakna:
الباقي بعد فناء الخلق
Allah itu tetap kekal setelah para makhluk binasa.
Dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) disebutkan beberapa perkataan ahli tafsir yakni sebagai berikut.
Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah :
الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ
Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan.
Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas mengatakan mengenai
(اللَّهُ الصَّمَدُ) :
هو السيد الذي قد كمل في سؤدده، والشريف الذي قد كمل في شرفه، والعظيم الذي قد كمل في عظمته، والحليم الذي قد كمل في حلمه، والعليم الذي قد كمل في علمه، والحكيم الذي قد كمل في حكمته وهو الذي قد كمل في أنواع الشرف والسؤدد، وهو الله سبحانه، هذه صفته لا تنبغي إلا له، ليس له كفء، وليس كمثله شيء، سبحان الله الواحد القهار.
Dia-lah As Sayyid (Pemimpin) yang kekuasaan-Nya sempurna. Dia-lah Asy Syarif (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna. Dia-lah Al ‘Azhim (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna. Dia-lah Al Halim (Maha Pemurah) yang kemurahan-Nya itu sempurna. Dia-lah Al ‘Alim (Maha Mengetahui) yang ilmu-Nya itu sempurna. Dia-lah Al Hakim (Maha Bijaksana) yang sempurna dalam hikmah (atau hukum-Nya). Allah-lah –Yang Maha Suci- yang Maha Sempurna dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Sifat-Nya ini tidak pantas kecuali bagi-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Al A’masy mengatakan dari Syaqiq dari Abi Wa’il bahwa Ash Shomad bermakna:
{ الصَّمَدُ } السيد الذي قد انتهى سؤدده
”Pemimpin yang paling tinggi kekuasaan-Nya”. Begitu juga diriwayatkan dari ’Ashim dari Abi Wa’il dari Ibnu Mas’ud semacam itu.
Malik mengatakan dari Zaid bin Aslam, ”Ash Shomad adalah As Sayyid (Pemimpin).”
Al Hasan dan Qotadah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الباقي بعد خلقه) Yang Maha Kekal setelah makhluk-Nya (binasa).
Al Hasan juga mengatakan bahwa
Ash Shomad adalah
الحي القيوم الذي لا زوال له
Yang Maha Hidup dan Quyyum (mengurusi dirinya dan makhlukNya) dan tidak mungkin binasa.
’Ikrimah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah yang tidak mengeluarkan sesuatupun dari-Nya (semisal anak) dan tidak makan.
Ar Robi’ bin Anas mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الذي لم يلد ولم يولد) yaitu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Beliau menafsirkan ayat ini dengan ayat sesudahnya dan ini tafsiran yang sangat bagus.
Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Al Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ’Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ’Atho’ bin Abi Robbah, ’Athiyyah Al ’Awfiy, Adh Dhohak dan As Sudi mengatakan bahwa
Ash Shomad adalah (لا جوف له) yaitu tidak memiliki rongga (perut).
Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobroni dalam kitab Sunnahnya -setelah menyebut berbagai pendapat di atas tentang tafsir Ash Shomad- berkata, ”Semua makna ini adalah shohih (benar). Sifat tersebut merupakan sifat Rabb kita ’Azza wa Jalla. Dia-lah tempat bersandar dan bergantung dalam segala kebutuhan. Dia-lah yang paling tinggi kekuasaan-Nya. Dia-lah Ash Shomad tidak ada yang berasal dari-Nya. Allah tidak butuh makan dan minum. Dia tetap kekal setelah para makhluk-Nya binasa. Baihaqi juga menjelaskan yang demikian.” (Diringkas dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Tafsir Ayat Ketiga
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3)
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Kalimat (لَمْ يَلِدْ) sebagaimana dikatakan Maqotil,
”Tidak beranak kemudian mendapat warisan.” Kalimat (وَلَمْ يُولَدْ) maksudnya adalah tidak disekutui. Demikian karena orang-orang musyrik Arab mengatakan bahwa Malaikat adalah anak perempuan Allah . Kaum Yahudi mengatakan bahwa ’Uzair adalah anak Allah. Sedangkan Nashoro mengatakan bahwa Al Masih (Isa, pen) adalah anak Allah. Dalam ayat ini, Allah meniadakan itu semua.” (Zadul Masiir)
Tafsir Ayat Keempat
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Maksudnya adalah tidak ada seorang pun sama dalam setiap sifat-sifat Allah. Jadi Allah meniadakan dari diri-Nya memiliki anak atau dilahirkan sehingga memiliki orang tua. Juga Allah meniadakan adanya yang semisal dengan-Nya. (Tafsir Juz ‘Amma 293)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan makna ayat: ”dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” yaitu tidak ada yang serupa (setara) dengan Allah dalam nama, sifat, dan perbuatan.
Ringkasnya, surat Al Ikhlash ini berisi penjelasan mengenai keesaan Allah serta kesempurnaan nama dan sifat-Nya.


2. Surat Al-falaq


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Saat ini kita masuk dalam pembahasan tafsir surat Al Falaq. Semoga bermanfaat.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
(yang artinya) :
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
Pengenalan
Surat ini dan surat sesudahnya (surat An Naas) diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam Dalailin Nubuwwah. Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakan Al Maw’izatain. Surat ini merupakan surat Makkiyyah (turun sebelum hijrah) dan ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah. Surat ini turun sesudah surat Al Fiil. (Aysarut Tafasir, hal. 1503; At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)
Asbabun Nuzul
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom di Madinah, Allah Ta’ala menurunkan Al Maw’izatain (surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Jibril ’alaihis salam meruqyah (membaca kedua ayat tersebut) kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Berkat izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh. (Aysarut Tafasir, hal. 1503) [Namun, riwayat sabab nuzul untuk surat Al falaq dan An Naaas dinilai dhaif oleh Syaikh Muqbil dalam as Shahih al Musnad min Asbab anNuzul, lihat juga penjelasan Ibnu Katsir]
Tafsir Ayat Pertama
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1)
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
Yang dimaksud dengan ‘Robbil Falaq’ adalah Allah. Al Falaq berasal dari kata ‘falaqo’ yang berarti membelah. Dalam ilmu shorof ‘Al Falaq’ bermakna isim maf’ul sifat musyabbahah yang berarti terbelah.
Lebih khusus ‘Al Falaq’ bisa bermakna Al Ishbah (pagi/shubuh) karena Allah membelah malam menjadi pagi.
Secara umum ‘Al Falaq’ bermakna segala sesuatu yang muncul/keluar dari yang lainnya. Seperti mata air yang keluar dari gunung, hujan dari awan, tumbuhan dari tanah, anak dari rahim ibunya. Ini semua dinamakan ‘Al Falaq’.
Perhatikan ayat-ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى
“Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan.” (QS. Al An’am [6] : 95).
Allah juga berfirman,
فَالِقُ الإِصْبَاحِ
“Dia menyingsingkan pagi.” (QS. Al An’am [6] : 95) (Tafsir Juz ‘Amma, 294; Ruhul Ma’ani)
Pengertian Ta’awudz
Ta’awudz (isti’adzah) adalah meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar terhindar dari marabahaya. (I’anatul Mustafid; Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 95)
Meminta Perlindungan (Isti’adzah)  adalah Ibadah
Meminta perlindungan (isti’adzah) merupakan ibadah. Karena menghilangkan marabahaya dan kejelekan tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah subhanahu wa ta’ala. Segala sesuatu yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, maka hal yang demikian tidaklah boleh dilakukan (ditujukan) kecuali pada Allah semata. Apabila hal semacam ini diminta kepada selain Allah, termasuk perbuatan syirik.
Ayat yang menunjukkan bahwa meminta perlindungan hanya boleh kepada Allah (karena Dia-lah yang mampu) dan bukan pada selain-Nya adalah firman Allah Ta’ala,
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat [41] : 36)
Allah juga memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan kepada-Nya sebagaimana pada awal surat Al Falaq dan An Naas. Dan perintah untuk Rasulullah berarti juga perintah untuk umatnya karena umatnya memiliki kewajiban untuk meneladani beliau.
Allah juga menyatakan bahwa meminta perlindungan kepada selain Allah termasuk kesyirikan sebagaimana pada ayat,
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْأِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa takut.” (QS. Al Jin [72] : 6)
Maksudnya adalah Allah akan menambahkan kepada manusia rasa takut. Oleh karena itu, ini adalah hukuman dari perbuatan mereka sendiri yang meminta perlindungan pada jin. Dan hukuman pasti diakibatkan karena dosa. Maka ayat ini menunjukkan celaan bagi manusia semacam ini karena telah meminta perlindungan kepada selain Allah.
Qotadah dan ulama salaf lainnya mengatakan bahwa makna ’rohaqo’ dalam ayat ini adalah ’itsman’ (dosa).
Oleh karena isti’adzah berakibat dosa, maka isti’adzah termasuk ibadah dan bernilai syirik jika ditujukan kepada selain Allah yang mati dan ghoib. (I’anatul Mustafid; At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid)
Tafsir Ayat Kedua
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2)
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
Ayat ini mencakup seluruh yang Allah ciptakan baik manusia, jin, hewan, benda-benda mati yang dapat menimbulkan bahaya dan dari kejelekan seluruh makhluk. (Taysir Al Karimir Rahman; Aysarut Tafasir).
Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini berarti berlindung dari kejelekan seluruh makhluk. Tsabit Al Bunani dan Al Hasan Al Bashri menafsirkan berlindung dari jahannam dan iblis serta keturunannya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Ayat ini juga mencakup meminta perlindungan pada diri sendiri. Ingatlah, nafsu selalu memerintahkan padakejelekan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf [12] : 53).
Maka setiap kali seseorang mengucapkan ayat ini, maka yang pertama kali tercakup dalam ayat tersebut adalah dirinya sendiri. Jadi dia berlindung dari kejelekan dirinya sendiri, yang mungkin sering ujub (berbangga diri) atau yang lainnya. Sebagaimana yang terdapat dalam khutbatul hajjah:
نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
“Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan diriku sendiri.” (HR. At Tirmidzi. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi no. 1105) (Tafsir Juz ‘Amma, 294-295)
Tafsir Ayat Ketiga
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3)
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
Ghosiq dalam ayat ini adalah Al Lail (malam) dan juga ada yang mengatakan Al Qomar (bulan). Sedangkan Idza Waqob bermakna apabila masuk (Tafsir Juz ‘Amma, 295; Adhwaul Bayan).
Mujahid mengatakan bahwa ‘ghosiq’ adalah Al Lail (malam) ketika matahari telah tenggelam sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Abi Najih. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka’ab Al Qurtubhy, Adh Dhohak, Khushoif, dan Al Hasan. Qotadah mengatakan bahwa maksudnya adalah malam apabila telah gelap gulita. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan bahwa pendapat yang kuat adalah tafsiran yang pertama (ghosiq adalah malam) sebagaimana didukung dengan tafsiran Al Qur’an.
أَقِمِ الصلاة لِدُلُوكِ الشمس إلى غَسَقِ الليل
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam.” (QS. Al Israa’ [17] : 78)
Sedangkan bulan merupakan bagian dari malam. Dan di malam harilah setan serta manusia dan hewan yang suka berbuat kerusakan bergentayangan ke mana-mana (Adhwaul Bayan). Kepada Allah-lah kita meminta perlindungan dari kejahatan dan kejelekan seperti ini.
Tafsir Ayat Keempat
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4)
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
Mujahid, Ikrimah, Al Hasan, dan Qotadah mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah sihir. Mujahid mengatakan, ”Apabila membaca mantera-mantera dan meniupkan (menyihir) di ikatan tali” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim).
Dalam ayat ini disebut dengan ’An Nafatsaat’ yaitu tukang sihir wanita. Karena umumnya yang menjadi tukang sihir adalah wanita. Namun ayat ini juga dapat mencakup tukang sihir laki-laki dan wanita, jika yang dimaksudkan adalah sifat dari nufus (jiwa atau ruh) (Ruhul Ma’ani; Tafsir Juz ’Amma, 295)
Namun perlu diingat bahwa dalam syari’at ini terdapat pula penyembuhan penyakit dengan do’a-do’a yang disyari’atkan yang dikenal dengan ruqyah. Dari Abu Sa’id, beliau menceritakan bahwa Jibril pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu mengatakan,”Ya Muhammad, apakah engkau merasa sakit?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan,”Iya”. Kemudian Jibril meruqyah Nabi dengan mengatakan,
بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
”Bismillah arqika min kulli sya-in yu’dzika, min syarri kulli nafsin aw ’aini hasidin. Allahu yasyfika. Bismillah arqika [Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau ’ain orang yang hasad (dengki). Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu].” (HR. Muslim no. 2186. Ada yang berpendapat bahwa kejelekan nafs (jiwa) adalah ’ain, yakni pandangan hasad).
Tafsir Ayat Kelima
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
Hasad adalah berangan-angan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain baik agar pindah kepada diri kita ataupun tidak (Aysarut Tafasir).
Allah menutup surat ini dengan hasad, sebagai peringatan bahayanya perkara ini. Hasad adalah memusuhi nikmat Allah.
Sebagian Ahli Hikmah mengatakan bahwa hasad itu dapat dilihat dari lima ciri :
Pertama, membenci suatu nikmat yang nampak pada orang lain;
Kedua, murka dengan pembagian nikmat Allah;
Ketiga, bakhil (kikir) dengan karunia Allah, padahal karunia Allah diberikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya;
Keempat, tidak mau menolong wali Allah (orang beriman) dan menginginkan hilangnya nikmat dari mereka;
Kelima, menolong musuhnya yaitu Iblis. (Al Jaami’ liahkamil Qur’an)
Salah satu dari bentuk hasad adalah ’ain (pandangan hasad). Apabila seseorang melihat pada orang lain kenikmatan kemudian hatinya merasa tidak suka, dia menimpakan ’ain (pandangan mata dengan penuh rasa dengki) pada orang lain. ’Ain ini dapat menyebabkan seseorang mati, sakit atau gila. ’Ain ini benar adanya dengan izin Allah Ta’ala.
Allah memerintahkan kepada kita untuk berlindung kepada-Nya dari malam apabila gelap gulita, dari sihir yang ditiupkan pada buhul-buhul, dan dari orang yang hasad apabila dia hasad, karena ketiga hal ini adalah perkara yang samar. Banyak kejadian pada malam hari yang samar yang dapat memberikan bahaya kepada kita. Begitu juga sihir adalah suatu hal yang samar, jarang kita ketahui. Dan begitu juga hasad dari orang lain, itu adalah hal yang samar. Dan ketiga kejelekan (kejahatan) ini masuk pada keumuman ayat kedua,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2)
“dari kejahatan makhluk-Nya.” (Tafsir Juz ’Amma, 296)
Lalu bagaimana jalan keluar agar terbebas dari tiga kejelekan (kejahatan) ini?
Pertama, dengan bertawakkal pada Allah, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta’ala.
Kedua, membaca wirid-wirid (dzikir-dzikir) yang dapat membentengi dan menjaga dari segala macam kejelekan. Perlu diingat bahwasanya kebanyakan manusia dapat terkena sihir, ’ain, dan berbagai kejelekan lainnya dikarenakan lalai dari dzikir-dzikir. Ingatlah bahwa bacaan dzikir merupakan benteng yang paling kokoh dan lebih kuat daripada benteng ’Ya’juj dan Ma’juj’. Namun, banyak dari manusia yang melupakan hal ini. Banyak di antara mereka yang melalaikan dzikir pagi dan petang, begitu juga dzikir ketika hendak tidur. Padahal dzikir-dzikir tersebut mudah untuk dihafalkan dan dibaca. (Tafsir Juz ’Amma, 296)

3. Surat An-nas

Surat An-Nas ini Makkiyah menurut pendapat paling benar, terdiri dari 6 ayat. Ini merupakan ayat perlindungan yang kedua.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾
1.  Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2.  Raja manusia.
3.  Sembahan manusia.
4.  Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5.  Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6.  Dari (golongan) jin dan manusia.”
Mana Mufradat:
ArtiMufradat
1. Yang membisikkkan kata-kata jahat di dada manusia.1.     الوسواس
2. Bentuk hiperbola dari kata Al-Khunus yang berarti kembali atau terlambat. Karena kalau ia diusir ia mundur dan kembali.2.     الخناس
3. Makhluk tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya selain Penciptanya.3.     من الجِنَّة
Syarah:
Katakan kepada mereka, “Aku berlindung kepada Allah agar menjagaku dari kejahatan makhluk yang berbisik kepadaku. Aku berlindung kepada Tuhan manusia yang mendidik dan mengambil sumpah kepada mereka di kala mereka kecil atau lemah. Allah telah menguasai urusan mereka dan Dialah Pemilik Manusia. Dia Ilah mereka dan mereka budak-Nya. Dia yang layak disembah, ditunduki, dan dituju. Sebab Dialah Allah Taala yang menciptakan manusia, menumbuhkembangkan mereka, serta menguasai urusan mereka. Karena Dialah tempat berlindung dan meminta pertolongan. Bernaung kepada-Nya dari kejahatan bisikan di dalam hati yang biasa menghiasi kejahatan dan menampakkan keburukan dengan bentuk kebaikan. Itulah bisikan yang kebanyakan mengajak kepada larangan, baik dari bangsa jin, makhluk yang tersembunyi, yang mereka itu anak-anak dan tentara iblis atau dari bangsa manusia seperti halnya teman-teman buruk.
Mudah-mudahan kita dipelihara Allah dari kejahatan setan jin dan setan manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Dia juga Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah sendiri telah mengajarkan kita bagaimana berlindung diri dari kejahatan lahir maupun batin.” Wallahu A’lam.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments